22 Agustus, 2008

PENGORBANAN DEMI ORANG LAIN


Hari ini aku telah merasakan sebuah pengalaman hidup yang tak mungkin aku biarkan begitu saja, kehidupan seorang teman yang rela menjadi jalan bagi teman-teman lain, menjadikanku kuat dan memiliki solidaritas yang tak pernah aku rasakan. Kehidupan seorang pengabdi sebuah organisasi tentu tak semudah yang dirasakan dan dilihat orang sekarang, banyak hal yang terjadi mulai dari pengembangan pengetahuan dan permulaan persiapan karir telah dia dilalui temanku. Dari sekian temanku sampai saat ini hanya Hasyim yang masih tetap ada dan bisa dibilang masih tetap eksis mendampingi adik-adiknya di organisasi. Hasyim merupakan kader organisasi Mahasiswa terkemuka di Indonesia, banyak hal yang telah lalui dalam organisasinya dan semata-mata baginya untuk kepentingan organisasi. Kesetiaan tak selamanya membawa ia pada sesuatu yang diharapkan, terlihat dari raut wajahnya yang melukiskan kekecewaan yang mendalam pada dirinya. Hasyim memang terlihat kecewa namun ia terus dan terus menampakkan keceriaan diwajahnya untuk menutupi kekecewaannya. Ku tak tahu sebagian temannya seangkatan sudah menjadi orang yang bisa dibilang sukses dalam karir mereka, tak jarang keberhasilan mereka diakibatkan oleh campur tangan Hasyim, baik dalam masalah kerja dan cinta.



Banyak yang mengatakan karena dia memang tidak seberuntung teman-temannya, kehidupan Hasyim tak ubahnya bagai katak dalam tempurung, namun aku melihat lain kenapa orang sebaik dia tidak memiliki tempat yang baik pula. Aku yakin dia akan sukses mengalahkan teman-teman seangkatannya dan bahkan mungkin bisa lebih. Jika teman-teman seangkatan mendapatkan lucky (keberuntungan) tidak dengan Hasyim, kegagalan seakan-akan selalu menjadi teman hidupnya. Dalam persoalan kerja dan cinta tak ubahnya hanya kegembiraan sesaat. Aku sempat berfikir kenapa temanku yang begitu eksis dalam organisasi dan berkorban untuk organisasi seakan menjadi tumbal keberhasilan orang lain. Bagaimana tidak, tak jarang banyak teman seangkatan dan bahkan diatasnya meminta pertolongan yang menguntungkan pribadi temannya selalu kepada Hasyim. Pengorbanan yang ia berikan selalu membawa keberhasilan dan keuntungan bagi yang ditolong. Namun apa yang dia dapatkan adalah kesendirian dan tak satupun dari teman-teman yang ditolongnya memberikan imbalan yang setimpal, entah penghargaan atau apa saja yang sekiranya dapat membuat Hasyim lebih bermakna.
Mengapa Hasyim tak pernah diperjuangkan oleh orang-orang yang telah ditolong dan kenapa orang-orang tak melihat sedikitpun perjuangan dia. Kenapa justru aku melihat mereka yang tidak sepantasnya memiliki tempat justru diperjuangkan. Dimana orang-orang yang pernah ia bantu, kalian mungkin sudah memiliki kemewahan, kesenangan, kebahagiaan, tapi aku yakin kalian takkan lama merasakannya. Kalian harus ingat ada orang yang banyak berkorban untuk keberhasilan kalian, yang saat ini dia tak pernah menuntut sedikitpun belas kasihan dari kalian, dia tetap lah dia yang selalu akan ada dalam kasih sayang Tuhan.
Pengorbanan adalah kata yang mengisyaratkan suatu bentuk pemberian secara total. Sebagai contoh dalam film Vertical Limit_yang pernah popular ditahun 2004 silam, dipaparkan tentang bagaimana seorang ayah rela memutuskan tali pengamannya sehingga jatuh dari tebing curam demi menyelamatkan anaknya. Pengorbanan yang kita lakukan ternyata berdampak pada munculnya kesadaran untuk senantiasa memperbaiki tingkah laku kearah yang lebih baik. Dan tak jarang pengorbanan mampu menumbuhkan rasa solidaritas dan kesetiakawanan. Dari cerita awal tak semua orang mau dan berani dengan dengan rela berkorban bagi kepentingan orang lain. Kita bisa lihat dari sebuah organisasi, relakah seorang pemimpin yang membuat kerja sama tim yang sebelumnya solid menjadi berantakan sang pemimpin rela mengundurkan diri? Berkorban demi soliditas tim? Atau relakah seseorang untuk meletakkan jabatannya setelah gagal memenuhi target yang dicanangkan dan disepakati organisasi? Bahkan seorang anggota pun seharusnya mampu dengan rela berkorban mengundurkan diri jika memang dirinya tidak mampu menunjukkan kinerja yang optimal apalagi jika sudah tidak memahami peran dan fungsi atas siapa dirinya dalam organisasi tersebut.
Mencoba menyelesaikan hal tersebut memang perlu perubahan paradigma tentang keberadaan kita dalam sebuah komunitas atau kelompok. Ketika berada dalam kelompok, baik organisasi ataupun institusi-institusi yang lain, maka segala kepentingan pribadi menjadi nomor dua, nilai-nilai pribadi melebur menjadi nilai-nilai kelompok, berkorban demi kepentingan kelompok dan orang lain sudah menjadi komitmen setiap anggota. Dalam masa sekarang mungkin sangat sulit seseorang mau mengorbankan nyawanya untuk kepentingan orang lain, namun sekalipun sulit toh masih banyak yang melakukan hal ini. Mengorbankan diri untuk melayani orang lain adalah langkah pengorbanan yang dapat dirintis. Dengan mengorbankan waktu (dalam kerangka kualitas waktu) untuk mewujudkan cinta kasih kepada keluarga merupakan investasi yang tidak ternilai.
Namun pengorbanan yang tulus tidak selamanya atau selalu memperoleh imbalan yang setimpal, bahkan terkadang sampai akhir hayat pun tidak dapat dilihat hasil maupun imbalannya. Setiap perbuatan baik dan pengorbanan yang dilakukan tidak akan luput dari penglihatan Sang Pencipta yang dapat memberi balasan setimpal dengan apa yang telah diberikan. Horrace Mann, dalam salah satu tulisannya menyebutkan, “Tidak berbuat apa-apa bagi sesame itu sama dengan meniadakan diri sendiri. Kita harus bersikap baik dan murah hati, kalau tidak kita melewatkan bagian terbaik dari keberadaan. Hati yang melampaui dirinya sendiri menjadi lebih besar dan penuh suka cita. Ini rahasia besar kehidupan batin. Kita paling menguntungkan diri sendiri ketika kita berbuat sesuatu bagi sesame.” Untuk itu pengorbanan merupakan tugas dan tanggungjawab kita sebagai manusia untuk hand in hand dengan sesame. Karena pengorbanan juga merupakan rasa syukur untuk berbagi sesama karena kita telah menerima karunia kasih sayangNya setiap sendi kehidupan kita.

Selengkapnya....

14 Agustus, 2008

MEMASUKI SEMESTA FILSAFAT ILMU1

PENDAHULUAN
Dalam penyajian materi-materi pada Basic Training (LK I) di HMI, filsafat Ilmu biasanya diberikan sebelum materi Nilai Dasar Perjuangan (NDP). Hal ini sebenarnya berangkat dari asumsi dasar bahwa filsafat dan ilmu merupakan pisau analisis (metodologi) dalam menelanjangi konsepsi-konsepsi NDP, baik itu konsepsi ke-Tuhan-an (Teologis), ke-Manusia-an (antroposentris) ataupun Alam Semesta (Kosmologis).
Tiga konsepsi inilah sebenarnya inti dari NDP. Pemahaman yang benar tentu saja harus berdasarkan pada metode berfikir yang benar pula. Filsafat dan Ilmu disini diposisikan sebagai metode befikir yang tepat dan benar sehingga akan mendapatkan kesimpulan yang benar pula.



PENGERTIAN FILSAFAT ILMU
Filsafat Ilmu memiliki banyak padanan kata dalam perkembangannya di eropa. Istilah-istilah tersebut adalah philosophy of science, theory of science, metascience, methodology dan science of science.2 Namun sebelum kita mendifinisikan filsafat ilmu, alangkah baiknya kita identifikasi dulu perbedaan antara dua term tersebut.

Filsafat
Kata filsafat berasal dari bahasa yunani philosophia dari akar kata philos (cinta) dan Sophia (kearifan) yang berarti cinta kepada kebijaksanaan, kearifan dan kebenaran. Filsafat adalah usaha berfikir tentang sesuatu secara logis, sistematis, radikal dan universal. Berfikir logis mengandung makna berfikir dengan menggunakan logika (undang-undang berfikir) yaitu melalui tiga tahapan: pemahaman, keputusan dan argumentasi.3 Sistematis berarti berfikir runtut tidak melompat lompat sehingga tercipta koherensi. Radikal disini dimaknai bahwa berfikir tersebut harus sampai pada akar permasalahan, tidak dangkal diluarnya saja. Sedangkan universal bermakna mengkaji masalah secara umum (General) tidak secara khusus (parsial).


1.Cabang-cabang Filsafat
Pada dasarnya pokok kajian filsafat itu berkisar pada tiga hal; yaitu pertama tentang benar atau salah (logika), kedua, tentang baik atau buruk (Etika) dan yang ketiga adalah tentang indah atau jelek (Estetika). Ketiga cabang filsafat ini kemudian bertambah lagi yakni, teori tentang ada (Metafisika), teori pengetahuan (Epistemologi), Filsafat Manusia, Filsafat Alam, Filsafat KeTuhanan, filsafat Politik, dan lain lain.

2.Sumber Pengetahuan Filsafat
Sidi Gazalba menulis bahwa ada empat sumber pengetahuan yaitu, pengetahuan semenjak lahir, pengetahuan dari budi (akali), pengetahuan yang didapat dari indra indra khusus (empirisme) dan Ilham.1 Namun secara umum ada dua pokok sumber pengetahuan yaitu: pertama, pengetahuan yang berdasar pada rasio (Rasionalisme), kedua, pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman (empirisme). Kaum rasionalis menggunakan metode deduktif (logika) dalam menyusun penetahuannya. Sedangkan kaum empiris menggunakan metode induktif (ekperimentasi).
Selain rasionalisme dan empirisme, intuisi dan wahyu juga merupakan sumber pengetahuan. Intuisi diperoleh tanpa melalui proses nalar tertentu. Seseorang yang sedang memusatkan konsentrasinya pada sesuatu masalah tiba-tiba menemukan penyelesaian masalah atas permasalahan tersebut. Pun juga wahyu merupakan pengetahuan yang turun dari langit yang biasanya hanya didapatkan oleh utusan Tuhan (Nabi atau rasul).

Ilmu
Lain halnya dengan filsafat, ilmu (science) adalah sesuatu pengetahuan yang tersistematikakan dan dapat diverifikasi kebenarannya secara empiris. Atau secara sederhana bisa dirumuskan dengan logico-hipothetico-verifikatif. The liang gie mengartikan ilmu sebagai rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan kognitif dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan tata langkah sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis mengenai gejala-gejala kealaman, kemasyarakatan, atau keorangan untuk tujuan mencapai kebenaran, memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan, ataupun melakukan penerapan.2 Ia membagi pemahaman ilmu menjadi tiga bagian yaitu, pertama, ilmu sebagai aktivitas penelitian (rasional, kognitif dan teleologis). Kedua, sebagai metode ilmiah (pola prosedural, tata langkah, berbagai tekhnik dan aneka alat) dan yang ketiga adalah sebagai pengetahuan sistematis )3. Jujun S. Suriasumantri merumuskan langkah-langkah metode ilmiah sebagai berikut.4
1.perumusan masalah
2.perumusan kerangka berfikirdalam pengajuan hipotesis
3.perumusan hipotesis
4.pengajuan hipotesis
5.penarikan kesimpulan
Ilmu terkait erat dengan sesuatu yang bisa di indra (pengetahuan) dan eksperimentasi (empirisme). Hasil dari penelitian ilmiah inilah yang menjadi manifestasi fungsional praktis-pragmatis dari teori pengetahuan, misalnya tekhnologi.
Jadi Filsafat itu sifatnya spekulatuf, ilmu bersifat empiris. Wilayah kajian filsafat itu sesuatu ide universal (Tuhan, Manusia, Kebenaran, Keindahan dll), sedangkan ilmu itu wilayah kajiannya partikuler (spesifik), baik kumpulan pengalaman yang diperoleh secara langsung/sengaja (science), ataupun diperoleh secara tidak langung/tidak sengaja (knowledge). Pencapaian kesimpulan filsafat melalui ketepatan berfikir (logika), sedangkan ilmu melalui penarikan kesimpulan (deduksi dan induksi), observasi, eksperimentasi dan verifikasi.
Jadi Filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia.5

SUMBER FILSAFAT ILMU
Perkembangan filsafat ilmu sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari proses perkembangan ilmu rasional mulai dari zaman yunani kuna hingga zaman modern. Ada empat sumber filsafat ilmu yaitu: Filsafat, Ilmu, Matematika dan Logika.6

PROBLEM-PROBLEM DALAM FILSAFAT ILMU
Problem-problem dalam filsafat ilmu melingkupi:
1.Problem-problem epistemologis tentang ilmu.
2.Problem-problem metafisis tentang ilmu.
3.Problem-problem logis tentang ilmu.
4.Problem-problem etis tentang ilmu.
5.Problem-problem estetis tentang ilmu.7

Setiap ilmu memiliki problem tersendiri, sesuai dengan karakter (nature) nya. Filsafat ilmu juga memiliki problem yang inheren dan koheren di dalam dirinya. Secara umum terdapat tiga masalah umum, yaitu: Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi.8 Filsafat ilmu merupakan telaahan secara filsafat yang ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakekat ilmu yaitu:
Obyek apa yang ditelaah? Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan obyek dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan. Pertanyaan tersebut merupakan landasan Ontologis.
Bagaimana proses dalam menimba ilmu?bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang perlu diperhatikan agar mendapatkan pengetahuan ynag benar? apa kriterianya? cara, teknik, sarana apa yang membantu untuk mendapatkan ilmu?. Pertanyayaan tersebut merupakan landasan Epistemologis.
Untuk apa Ilmu pengetahuan itu, apa hubungannya dengan kaidah moral?. Pertanyaan tersebut menjadi landasan Aksiologis.9

DIMANA KAITAN NDP DENGAN FILSAFAT ILMU?

Ada Tujuh Nilai Dasar Perjuangan, yaitu:
1.Dasar-dasar Kepercayaan
2.Pengertian Dasar Tentang Kemanusiaan
3.Kemerdekaan Manusia (Ikhtiar) dan keharusan Universal (Taqdir)
4.Ketuhanan Manusia dan Kemanusiaan
5.Individu dan Masyarakat
6.Keadilan Sosial dan Keadilan Ekonomi
7.Kemajuan dan Ilmu Pengetahuan

Problem NDP sebagainama problem yang ada pada ilmu tertentu juga memiliki landasan ontologis (NDP 1, 2, 4 dan 5), epistemologis (NDP 3) dan aksiologis (NDP 6 dan 7)
Dalam mengkaji NDP, sebenarnya kita bisa menggunakan Filsafat, Ilmu, ataupun Filsafat Ilmu. Filsafat kita gunakan untuk membedah tabir ide universal tentang aspek ontologis yaitu: Tuhan (NDP I dan 4}, Manusia (NDP 2, 4 dan 5) dan alam semesta (NDP 3). Ilmu kita gunakan sebagai pisau analisis dalam menganalisa, menghipotesa, membuktikan dan menyimpulakan realitas kemanusiaan dan alam semesta yang partikular (NDP 2, 3, 4, 5,6,7).
Sebanarnya sulit memastikan wilayah landasan dalam NDP, Tergantung bagaimana kita memandangnya. Pada suatu saat satu ide bisa memiliki satu, dua bahkan tiga landasan sekaligus, misalnya, ide tentang kemanusiaan termasuk ontologis, manusia sebagai mahluk berfikir termasuk Epistemologis, dan nilai, arti dan makna manusia merupakan landasan aksiologis. Jadi kitalah yang memutuskan. Bukankan manusia itu relatif? Sehingga konsekuesi logisya adalah apapun yang keluar dari manusia juga bersifat relatif., baik itu ide, konsepsi, keyakinan, rumusan, ilmu dan lain sebagainya. Namun tentu saja kita harus tetap mencari kebenaran tersebut, karena itulah kebenaran manusia yang harus tetap dicari dan di manifestasikan dalam kehidupan sehari hari.

Daftar Bacaan
The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, Liberti, (cet. IV) Yogyakarta: 1999
Hasan Bakri Nasution, FilsafatUmum, Gaya Media Pratama, Jakarta: 2001
Sidi Gazalba, sistematika filsafat (buku kedua), Bulan Bintang, Jakarta: 1991
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, sebuah pengantar populer, Pustaka Sinar Harapan, (cet. XII), Jakarta: 1999

Selengkapnya....

12 Agustus, 2008

PUISI-PUISIKU

Aku Ingin Dimengerti


Hari berganti demikian juga bulan dan tahun mengiringinya
Tak terasa usiaku kini sudah mulai tua
Saat ini tak seorangpun paham dan mengerti
Orangtua, saudara, guru, sahabat dan teman-teman ku
Semua tak pernah tau…….

Aku ingin lebih …….
Asaku tak pernah pudar
Harapanku jauh membentang
Kehendakku menghampar
Cita-citaku agung dan besar
Aku ingin semua orang tau…..
Aku ingin semua mengakui…..
Aku ingin semua mengerti……
Aku ingin semua memahami……
AKU adalah AKU
Dan KAU adalah KAU
AKU tak mungkin menjadi KAU
KAU tak mungkin menjadi AKU
Tapi AKU bisa bersatu
Tuk jalin janji menjadi KAMI

1 Agustus 2005

By MM
Emosi

Gejolak hati muncul sejuta rasa….
Melihat dunia sudah ternoda
Aku benci kepada engkau
Aku marah kepada engkau
Aku dendam kepada engkau

Engkau pasti akan tau
Engkau pasti takkan mengira
Engkau pasti kecewa
Karena aku bisa….

Kini kau tak mungkin mengulangi
Karena keniscayaan masih memblenggu
Seraya kau berkata kenapa aku dulu..
Dulu kau pura-pura tak tau
Dulu kau memandang sebelah mata terhadapku

Sudah saatnya aku tunjukkan padamu
Agar kau menyesalinya untuk jangka waktu
Terbalas sudah asaku, kemenanganku bukan untukmu
Teman maafkan aku


2 Agustus 2005
BY MM

Selengkapnya....

Inspirasiku

Inspirasi Hidupku
Melihat sesuatu dengan menanggalkan semua faktor dan effek negative (cara pandang positif) tentulah sangat membantu kita dalam menjalankan hidup ini. Banyak hal yang menjadikan kita tidak bisa menjadi diri kita sendiri dalam segala hal, ini telah sering kita alami, semua terinspirasi dari bagaimana cara pandang kita terhadap suatu fenomena yang ada. Suatu hari kita sering menemukan persoalan-persoalan yang ada disekitar kita, baik itu ada pada diri kita maupun oranglain bahkan mungkin fenomena alam yang ada. Banyaknya faktor yang menyebabkan fenomena itu terjadi, menjadikan banyak persoalan yang akan kita hadapi pula. Kadang memang factor itu menjadi salah satu penyebab munculnya inspirasi hidaup atau motifasi pada diri kita masing-masing. Oleh karena, tinggal bagaimana kita menyikapinya dengan cara pandang kita terhadap persoalan atau masalah yang ada.
Semangat melakukan perubahan adalah salah satu cara pandang yang positif bagi diri kita, ketika manusia telah melakukan perubahan tentu semangat untuk hidup berkembang dan maju sebuah hasil yang akan mereka capai. Karena pada dasarnya manusia memiliki semua keinginan untuk menjadikan hidupnya penuh makna. Semangat melakukan perubahan harus dimiliki oleh manusia yang akan berjuang menentukan nasib hidupnya masing-masing, memang kita tak mungkin memutar-balikkan taktir kita yang sudah digariskan oleh Tuhan SWT, namun bukankan Tuhan telah berjanji dalam Firman-Nya bahwa apa bila kita tidak merubah diri kita maka Tuhan pun juga tidak akan merubah diri kita.
          
Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaanyang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Adapun faktor itu bisa dari saudara kandung, teman, sahabat atau orang yang memang sangat spesial bagi kita, tak terkecuali kekasih. Namun pada dasarnya manusia memiliki potensi dan sarana untuk merubah dirinya sendiri menuju lebih baik. Disinilah dibutuhkan motifasi dan inspirasi yang positif tanpa terkesan egois. Dalam diri kita sebenarnya memiliki sejuta gagasan dan harapan untuk membentuk diri ini menjadi lebih maju.
Kita harus sadar bahwa hidup ini adalah sebuah karunia yang amat besar dari kasih sayang yang diberikan Tuhan kepada kita, sehingga kita akan bersikap seperti apa kepada Nya, itulah yang terpenting, karena Tuhan akan memberikan kepada kita selagi kita memang berusaha dengan baik kepada Nya. Kadang kita memang tidak mengetahui dan mengerti bentuk cinta dan kasih sayang Nya; kehidupan yang diberikan, kesempurnaan jasadi, alam semesta yang memiliki keutamaan manfaat bagi manusia dan masih banyak lagi yang tak manusia sadari.
Alangkah luas tak bertepi dan alangkah tinggi tak terjangkau, dalam tak terhingga kasih sayang Tuhan kepada kita;
           
Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dari sini aku ingin semua tau bahwa sesungguhnya tiada motifator dan inspirator paling sempurna selain ketaatan kita pada Tuhan. Jika kita takut, akan apa yang dijanjikan Tuhan kepada kita pastilah kita akan berusaha untuk melakukan sebuah kreatifitas yang menuju pada perubahan fundamental pada diri kita. Disamping kita memang harus berjalan pada cara pandang kita yang positif terhadap segala persoalan yang ada disekitar kita. Wallahu A’lam Bishowaab.

Selengkapnya....

HUKUMAN BAGI SI BUTA

HUKUMAN BAGI SI BUTA

Seorang temanku bercerita, suatu ketika dalam perjalanannya mengikuti acara Jambore Nasional, ia menuju perkemahan dekat hutan bersungai, yang kebetulan sungai tersebut menghubungkan dengan sungai-sungai daikawasan hutan tersebut, pada mulanya ia tidak sengaja melihat dua ekor monyet yang memang menjadi salah satu pemandangan tersendiri di hutan tempat perkemahan. Kedua kera tersebut jatuh dalam sebuah cawang air (dalam bahasa jawa: belik) yang dalam setelah asik bermain diatas pohon-pohon yang rindang dan hijau, dimana dibawah pohon-pohon itu terdapat sungai yang mengalir deras, pada sisi-sisi sungai itu terdapat cawan-cawan air, memang sebagian besar airnya digunakan untuk memasak bagi yang berkemah disekitar hutan tersebut. Cawang air tersebut ada yang dalam dan dangkal berlumpur. Sedangkan airnya begitu dingin sehingga membuat kera tersebut menjerit-jerit laksana minta tolong. Bermula dari apa yang tengah dilihat ia bertutur tentang kisah dua ekor kera tersebut.
“Oh, bagaimana ini?” kata seekor kera yng pertama. “Ini adalah kehendak yang kuasa, tidak ada pertolongan. Selamat tinggal kawanku!, Selama tinggal, dunia yang menyeramkan”. Ungkapnya sambil menangis dan akhirnya tenggelam.
Akan tetapi kera yang satunya langsung berusaha berenang tuk meraih ranting-ranting akar yang menjalar disekitar dinding cawing air. Sesaat ia menyeka wajah dan mengeringkan matanya yang penuh dengan lumpur. “Paling tidak, aku akan berenang sejenak”, katanya. “Tidak akan membantu dunia jika kera satu lagi mati”.
Dua jam lewat ia menendang dan terus berenang, tidak sekalipun ia berhenti mengeluh dan putus asa. Tetapi ia terus menendang dan berenang, berenang dan menendang sampai akhirnya, sampailah tangannya untuk mengais ranting-ranting akar yang berada didinding-dinding cawing air. Setelah dapat meraih ranting akar tersebut mulailah ia memanjat sedikit demi sedikit dengan berpegangan pada ranting akar menuju pada bibir cawing air.
Satu hal yang berbeda dari kedua kera tersebut dalam kisah diatas adalah cara pandang mereka terhadap dunia atau lingkungan disekitarnya. Selain itu bagaimana cara pandang menyelesaikan masalah yang terjadi disekitar mereka terhadap hambatan-hambatan yang ada. Salah satu elemen penting dalam menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi, baik masalah keluarga, pekerjaan atau masalah pribadi, terletak pada cara pandang kita terhadap masalah itu sendiri.
Cara pandang ini tentunya dipengaruhi oleh semua realitas yang ada dan terus-menerus ditangkap oleh akal kita dan masuk dalam pikiran kita. Realitas itu menjadi informasi-informasi penting untuk mengembangkan pengetahuan, sehingga menjadi sebuah paradigma baru dalam diri kita. Informasi-informasi tersebut bias berupa bacaan ataupun sentuhan-sentuhan dengan realitas social kita, yang bersifat pemberi motifasi diri. Maka tentunya kita akan cenderung mengambil hikmah pada peristiwa-peristiwa yang terjadi sehingga membuatnya lebih optimis.
Berbeda halnya jika realitas yang masuk dalam pikiran kita berupa informasi-informasi yang bersifatnegatif atau cenderung melemahkan diri kita, yang didominasi oleh dogma-dogma dan tradisi-tradisi adat yang membelenggu kita sehingga kita cenderung menutup diri. Oleh karenanya terdapat peringatan keras dari Nabi,: “Awasi pikiranmu” sebuah hermeneutik atas “Bahwa terlalu panjang angan-angan adalah kharam”.
Jika kita telaah lebih dalam sesungguhnya hanya dengan cara pandang yang positif, sebenarnya semua masalah dapat diselesaikan dengan baik atau tidak. Jika seseorang memiliki cara pandang positif dalam menyelesaikan segala masalah yang ada biasanya orang itu memiliki sifat ikhlas dalam artian alergi pada urusan pamrih dan imbalan. Karena baginya meneyelesaikan masalah adalah bagian dari hidupnya, ia merupakan the way of life (cara hidup) bukan how to life (bagaimana hidup). Mereka yang memiliki cara pandang demikian, apapun yang diberikan baik pekerjaan atau tugas akan diyakininya sebagai amanah, yang harus dijalankannya dengan sungguh-sungguh. Mereka memiliki cara pandang sendiri dalam menyelesaikan masalah-masalah yang ada pada dirinya, sehingga tidak berharap perlu dan harus orang lain memandangnya. Bagi mereka, menyelesaikan pekerjaan bukan untuk dilihat oleh pimpinan atau untuk meraih piala kemenangan atau meraih kedudukan tertentu.
Semua prestasi yang ada pada diri kita baik itu pangkat, kedudukan atau jabatan bukan menjadi salah satu jaminan bagi kita untuk memiliki cara pandang positif terhadap apapun yang ada disekitar kita, apa atau siapa yang ada dilingkungannya. Di sisi lain mitra atau teman, sahabat bahkan perkenalan kita menjadi asset yang berharga untuk membentuk sebuah jaringan (network) yang lebih baik. Oleh karenanya bukan lingkungan yang menerjemahkan makna dalam diri kita melainkan kita yang menerjemahkan makna lingkungan dengan berbeda-beda dan sebenarnya.
Cara pandang yang positif akan sangat mempengaruhi dan memberi dampak yang positif terhadap efektifitas kerja seseorang. Cara pandang yang positif akan mampu membawa kita pada sifat optimis terhadap segala yang terjadi pada diri kita. Itulah sebabnya mereka yang memiliki cara pandang akan memiliki willingness to do more (keinginan untuk melakukan lebih dari sesuatu yang diminta).dan memiliki watak pekerja cerdas (smart worker) Indivdu yang memiliki cara pandang demikian juga, secara pribadi akan mampu memetakan kompetensi dan minatnya sehingga dia tahu dimana dan bagaimana ia berkembang. Dengan niat yang tulus ikhlas diakan menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan karena memang itu baginya merupakan bagian dari hidupnya.
Steven covey berkata : “Jika kita memandang permasalahan dan beban itu berasal dari diri kita, justru pada saat itu sebenarnya kitalah yang sedang bermasalah” jadi mailah kita kembangkan optimisme kita mulai hari ini untuk memaknakan arti hidup. Optimisme yang sesungguhnya adalah menyadari masalah serta memengenali pemecahannya. Mengetahu kesulitan dan yakin kesulitan itu dapat diselesaikan. Melihat yang negatif tetapi menekankan yang positif. Menghadapi yang terburuk tetapi mengharapkan yang terbaik. Mempunyai alasan untuk menggerutu tetapi memilih untuk tersenyum. Haaaaa.....haaa........ jika kita tidak mengenal diri kita itu berart kita buta atas diri kita ya parah tooooooooooooooooooo

Selengkapnya....

11 Agustus, 2008

TENTANG AKU.......





Selengkapnya....

TENTANG ME.........

AKU MEMILIKI NAMA : MOCH. MUSLIH
TTL : GROBOGAN 15 MEI 1997
ALAMAT : JL. BADER NO 443 KALIREJO BANGIL-PASURUAN
NO TELP : 0341 745060 HP. 081334466007



Selengkapnya....
Template by : kendhin x-template.blogspot.com