PENGORBANAN DEMI ORANG LAIN
Hari ini aku telah merasakan sebuah pengalaman hidup yang tak mungkin aku biarkan begitu saja, kehidupan seorang teman yang rela menjadi jalan bagi teman-teman lain, menjadikanku kuat dan memiliki solidaritas yang tak pernah aku rasakan. Kehidupan seorang pengabdi sebuah organisasi tentu tak semudah yang dirasakan dan dilihat orang sekarang, banyak hal yang terjadi mulai dari pengembangan pengetahuan dan permulaan persiapan karir telah dia dilalui temanku. Dari sekian temanku sampai saat ini hanya Hasyim yang masih tetap ada dan bisa dibilang masih tetap eksis mendampingi adik-adiknya di organisasi. Hasyim merupakan kader organisasi Mahasiswa terkemuka di Indonesia, banyak hal yang telah lalui dalam organisasinya dan semata-mata baginya untuk kepentingan organisasi. Kesetiaan tak selamanya membawa ia pada sesuatu yang diharapkan, terlihat dari raut wajahnya yang melukiskan kekecewaan yang mendalam pada dirinya. Hasyim memang terlihat kecewa namun ia terus dan terus menampakkan keceriaan diwajahnya untuk menutupi kekecewaannya. Ku tak tahu sebagian temannya seangkatan sudah menjadi orang yang bisa dibilang sukses dalam karir mereka, tak jarang keberhasilan mereka diakibatkan oleh campur tangan Hasyim, baik dalam masalah kerja dan cinta.
Banyak yang mengatakan karena dia memang tidak seberuntung teman-temannya, kehidupan Hasyim tak ubahnya bagai katak dalam tempurung, namun aku melihat lain kenapa orang sebaik dia tidak memiliki tempat yang baik pula. Aku yakin dia akan sukses mengalahkan teman-teman seangkatannya dan bahkan mungkin bisa lebih. Jika teman-teman seangkatan mendapatkan lucky (keberuntungan) tidak dengan Hasyim, kegagalan seakan-akan selalu menjadi teman hidupnya. Dalam persoalan kerja dan cinta tak ubahnya hanya kegembiraan sesaat. Aku sempat berfikir kenapa temanku yang begitu eksis dalam organisasi dan berkorban untuk organisasi seakan menjadi tumbal keberhasilan orang lain. Bagaimana tidak, tak jarang banyak teman seangkatan dan bahkan diatasnya meminta pertolongan yang menguntungkan pribadi temannya selalu kepada Hasyim. Pengorbanan yang ia berikan selalu membawa keberhasilan dan keuntungan bagi yang ditolong. Namun apa yang dia dapatkan adalah kesendirian dan tak satupun dari teman-teman yang ditolongnya memberikan imbalan yang setimpal, entah penghargaan atau apa saja yang sekiranya dapat membuat Hasyim lebih bermakna.
Mengapa Hasyim tak pernah diperjuangkan oleh orang-orang yang telah ditolong dan kenapa orang-orang tak melihat sedikitpun perjuangan dia. Kenapa justru aku melihat mereka yang tidak sepantasnya memiliki tempat justru diperjuangkan. Dimana orang-orang yang pernah ia bantu, kalian mungkin sudah memiliki kemewahan, kesenangan, kebahagiaan, tapi aku yakin kalian takkan lama merasakannya. Kalian harus ingat ada orang yang banyak berkorban untuk keberhasilan kalian, yang saat ini dia tak pernah menuntut sedikitpun belas kasihan dari kalian, dia tetap lah dia yang selalu akan ada dalam kasih sayang Tuhan.
Pengorbanan adalah kata yang mengisyaratkan suatu bentuk pemberian secara total. Sebagai contoh dalam film Vertical Limit_yang pernah popular ditahun 2004 silam, dipaparkan tentang bagaimana seorang ayah rela memutuskan tali pengamannya sehingga jatuh dari tebing curam demi menyelamatkan anaknya. Pengorbanan yang kita lakukan ternyata berdampak pada munculnya kesadaran untuk senantiasa memperbaiki tingkah laku kearah yang lebih baik. Dan tak jarang pengorbanan mampu menumbuhkan rasa solidaritas dan kesetiakawanan. Dari cerita awal tak semua orang mau dan berani dengan dengan rela berkorban bagi kepentingan orang lain. Kita bisa lihat dari sebuah organisasi, relakah seorang pemimpin yang membuat kerja sama tim yang sebelumnya solid menjadi berantakan sang pemimpin rela mengundurkan diri? Berkorban demi soliditas tim? Atau relakah seseorang untuk meletakkan jabatannya setelah gagal memenuhi target yang dicanangkan dan disepakati organisasi? Bahkan seorang anggota pun seharusnya mampu dengan rela berkorban mengundurkan diri jika memang dirinya tidak mampu menunjukkan kinerja yang optimal apalagi jika sudah tidak memahami peran dan fungsi atas siapa dirinya dalam organisasi tersebut.
Mencoba menyelesaikan hal tersebut memang perlu perubahan paradigma tentang keberadaan kita dalam sebuah komunitas atau kelompok. Ketika berada dalam kelompok, baik organisasi ataupun institusi-institusi yang lain, maka segala kepentingan pribadi menjadi nomor dua, nilai-nilai pribadi melebur menjadi nilai-nilai kelompok, berkorban demi kepentingan kelompok dan orang lain sudah menjadi komitmen setiap anggota. Dalam masa sekarang mungkin sangat sulit seseorang mau mengorbankan nyawanya untuk kepentingan orang lain, namun sekalipun sulit toh masih banyak yang melakukan hal ini. Mengorbankan diri untuk melayani orang lain adalah langkah pengorbanan yang dapat dirintis. Dengan mengorbankan waktu (dalam kerangka kualitas waktu) untuk mewujudkan cinta kasih kepada keluarga merupakan investasi yang tidak ternilai.
Namun pengorbanan yang tulus tidak selamanya atau selalu memperoleh imbalan yang setimpal, bahkan terkadang sampai akhir hayat pun tidak dapat dilihat hasil maupun imbalannya. Setiap perbuatan baik dan pengorbanan yang dilakukan tidak akan luput dari penglihatan Sang Pencipta yang dapat memberi balasan setimpal dengan apa yang telah diberikan. Horrace Mann, dalam salah satu tulisannya menyebutkan, “Tidak berbuat apa-apa bagi sesame itu sama dengan meniadakan diri sendiri. Kita harus bersikap baik dan murah hati, kalau tidak kita melewatkan bagian terbaik dari keberadaan. Hati yang melampaui dirinya sendiri menjadi lebih besar dan penuh suka cita. Ini rahasia besar kehidupan batin. Kita paling menguntungkan diri sendiri ketika kita berbuat sesuatu bagi sesame.” Untuk itu pengorbanan merupakan tugas dan tanggungjawab kita sebagai manusia untuk hand in hand dengan sesame. Karena pengorbanan juga merupakan rasa syukur untuk berbagi sesama karena kita telah menerima karunia kasih sayangNya setiap sendi kehidupan kita.
Mengenai Saya
- Muslih
- Grobogan, JATIM, Indonesia
- Aku adalah anak ke 12 dari 12 bersaudara, karena aku yang terakhir jadi ya........manja gitu.. Namun aku orang yang paling sedikit mendapat kasih sayang orang tua, karena aku sampai kini hidup merantau tuk jalani hidup ini lebih enjoy, aku berbintang Taurus dan sio aku adalah kambing enak kan tuk sate dan gule
22 Agustus, 2008
Diposting oleh
Muslih
di
20.58
0
komentar
14 Agustus, 2008
MEMASUKI SEMESTA FILSAFAT ILMU1
PENDAHULUAN
Dalam penyajian materi-materi pada Basic Training (LK I) di HMI, filsafat Ilmu biasanya diberikan sebelum materi Nilai Dasar Perjuangan (NDP). Hal ini sebenarnya berangkat dari asumsi dasar bahwa filsafat dan ilmu merupakan pisau analisis (metodologi) dalam menelanjangi konsepsi-konsepsi NDP, baik itu konsepsi ke-Tuhan-an (Teologis), ke-Manusia-an (antroposentris) ataupun Alam Semesta (Kosmologis).
Tiga konsepsi inilah sebenarnya inti dari NDP. Pemahaman yang benar tentu saja harus berdasarkan pada metode berfikir yang benar pula. Filsafat dan Ilmu disini diposisikan sebagai metode befikir yang tepat dan benar sehingga akan mendapatkan kesimpulan yang benar pula.
PENGERTIAN FILSAFAT ILMU
Filsafat Ilmu memiliki banyak padanan kata dalam perkembangannya di eropa. Istilah-istilah tersebut adalah philosophy of science, theory of science, metascience, methodology dan science of science.2 Namun sebelum kita mendifinisikan filsafat ilmu, alangkah baiknya kita identifikasi dulu perbedaan antara dua term tersebut.
Filsafat
Kata filsafat berasal dari bahasa yunani philosophia dari akar kata philos (cinta) dan Sophia (kearifan) yang berarti cinta kepada kebijaksanaan, kearifan dan kebenaran. Filsafat adalah usaha berfikir tentang sesuatu secara logis, sistematis, radikal dan universal. Berfikir logis mengandung makna berfikir dengan menggunakan logika (undang-undang berfikir) yaitu melalui tiga tahapan: pemahaman, keputusan dan argumentasi.3 Sistematis berarti berfikir runtut tidak melompat lompat sehingga tercipta koherensi. Radikal disini dimaknai bahwa berfikir tersebut harus sampai pada akar permasalahan, tidak dangkal diluarnya saja. Sedangkan universal bermakna mengkaji masalah secara umum (General) tidak secara khusus (parsial).
1.Cabang-cabang Filsafat
Pada dasarnya pokok kajian filsafat itu berkisar pada tiga hal; yaitu pertama tentang benar atau salah (logika), kedua, tentang baik atau buruk (Etika) dan yang ketiga adalah tentang indah atau jelek (Estetika). Ketiga cabang filsafat ini kemudian bertambah lagi yakni, teori tentang ada (Metafisika), teori pengetahuan (Epistemologi), Filsafat Manusia, Filsafat Alam, Filsafat KeTuhanan, filsafat Politik, dan lain lain.
2.Sumber Pengetahuan Filsafat
Sidi Gazalba menulis bahwa ada empat sumber pengetahuan yaitu, pengetahuan semenjak lahir, pengetahuan dari budi (akali), pengetahuan yang didapat dari indra indra khusus (empirisme) dan Ilham.1 Namun secara umum ada dua pokok sumber pengetahuan yaitu: pertama, pengetahuan yang berdasar pada rasio (Rasionalisme), kedua, pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman (empirisme). Kaum rasionalis menggunakan metode deduktif (logika) dalam menyusun penetahuannya. Sedangkan kaum empiris menggunakan metode induktif (ekperimentasi).
Selain rasionalisme dan empirisme, intuisi dan wahyu juga merupakan sumber pengetahuan. Intuisi diperoleh tanpa melalui proses nalar tertentu. Seseorang yang sedang memusatkan konsentrasinya pada sesuatu masalah tiba-tiba menemukan penyelesaian masalah atas permasalahan tersebut. Pun juga wahyu merupakan pengetahuan yang turun dari langit yang biasanya hanya didapatkan oleh utusan Tuhan (Nabi atau rasul).
Ilmu
Lain halnya dengan filsafat, ilmu (science) adalah sesuatu pengetahuan yang tersistematikakan dan dapat diverifikasi kebenarannya secara empiris. Atau secara sederhana bisa dirumuskan dengan logico-hipothetico-verifikatif. The liang gie mengartikan ilmu sebagai rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan kognitif dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan tata langkah sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis mengenai gejala-gejala kealaman, kemasyarakatan, atau keorangan untuk tujuan mencapai kebenaran, memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan, ataupun melakukan penerapan.2 Ia membagi pemahaman ilmu menjadi tiga bagian yaitu, pertama, ilmu sebagai aktivitas penelitian (rasional, kognitif dan teleologis). Kedua, sebagai metode ilmiah (pola prosedural, tata langkah, berbagai tekhnik dan aneka alat) dan yang ketiga adalah sebagai pengetahuan sistematis )3. Jujun S. Suriasumantri merumuskan langkah-langkah metode ilmiah sebagai berikut.4
1.perumusan masalah
2.perumusan kerangka berfikirdalam pengajuan hipotesis
3.perumusan hipotesis
4.pengajuan hipotesis
5.penarikan kesimpulan
Ilmu terkait erat dengan sesuatu yang bisa di indra (pengetahuan) dan eksperimentasi (empirisme). Hasil dari penelitian ilmiah inilah yang menjadi manifestasi fungsional praktis-pragmatis dari teori pengetahuan, misalnya tekhnologi.
Jadi Filsafat itu sifatnya spekulatuf, ilmu bersifat empiris. Wilayah kajian filsafat itu sesuatu ide universal (Tuhan, Manusia, Kebenaran, Keindahan dll), sedangkan ilmu itu wilayah kajiannya partikuler (spesifik), baik kumpulan pengalaman yang diperoleh secara langsung/sengaja (science), ataupun diperoleh secara tidak langung/tidak sengaja (knowledge). Pencapaian kesimpulan filsafat melalui ketepatan berfikir (logika), sedangkan ilmu melalui penarikan kesimpulan (deduksi dan induksi), observasi, eksperimentasi dan verifikasi.
Jadi Filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia.5
SUMBER FILSAFAT ILMU
Perkembangan filsafat ilmu sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari proses perkembangan ilmu rasional mulai dari zaman yunani kuna hingga zaman modern. Ada empat sumber filsafat ilmu yaitu: Filsafat, Ilmu, Matematika dan Logika.6
PROBLEM-PROBLEM DALAM FILSAFAT ILMU
Problem-problem dalam filsafat ilmu melingkupi:
1.Problem-problem epistemologis tentang ilmu.
2.Problem-problem metafisis tentang ilmu.
3.Problem-problem logis tentang ilmu.
4.Problem-problem etis tentang ilmu.
5.Problem-problem estetis tentang ilmu.7
Setiap ilmu memiliki problem tersendiri, sesuai dengan karakter (nature) nya. Filsafat ilmu juga memiliki problem yang inheren dan koheren di dalam dirinya. Secara umum terdapat tiga masalah umum, yaitu: Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi.8 Filsafat ilmu merupakan telaahan secara filsafat yang ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakekat ilmu yaitu:
Obyek apa yang ditelaah? Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan obyek dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan. Pertanyaan tersebut merupakan landasan Ontologis.
Bagaimana proses dalam menimba ilmu?bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang perlu diperhatikan agar mendapatkan pengetahuan ynag benar? apa kriterianya? cara, teknik, sarana apa yang membantu untuk mendapatkan ilmu?. Pertanyayaan tersebut merupakan landasan Epistemologis.
Untuk apa Ilmu pengetahuan itu, apa hubungannya dengan kaidah moral?. Pertanyaan tersebut menjadi landasan Aksiologis.9
DIMANA KAITAN NDP DENGAN FILSAFAT ILMU?
Ada Tujuh Nilai Dasar Perjuangan, yaitu:
1.Dasar-dasar Kepercayaan
2.Pengertian Dasar Tentang Kemanusiaan
3.Kemerdekaan Manusia (Ikhtiar) dan keharusan Universal (Taqdir)
4.Ketuhanan Manusia dan Kemanusiaan
5.Individu dan Masyarakat
6.Keadilan Sosial dan Keadilan Ekonomi
7.Kemajuan dan Ilmu Pengetahuan
Problem NDP sebagainama problem yang ada pada ilmu tertentu juga memiliki landasan ontologis (NDP 1, 2, 4 dan 5), epistemologis (NDP 3) dan aksiologis (NDP 6 dan 7)
Dalam mengkaji NDP, sebenarnya kita bisa menggunakan Filsafat, Ilmu, ataupun Filsafat Ilmu. Filsafat kita gunakan untuk membedah tabir ide universal tentang aspek ontologis yaitu: Tuhan (NDP I dan 4}, Manusia (NDP 2, 4 dan 5) dan alam semesta (NDP 3). Ilmu kita gunakan sebagai pisau analisis dalam menganalisa, menghipotesa, membuktikan dan menyimpulakan realitas kemanusiaan dan alam semesta yang partikular (NDP 2, 3, 4, 5,6,7).
Sebanarnya sulit memastikan wilayah landasan dalam NDP, Tergantung bagaimana kita memandangnya. Pada suatu saat satu ide bisa memiliki satu, dua bahkan tiga landasan sekaligus, misalnya, ide tentang kemanusiaan termasuk ontologis, manusia sebagai mahluk berfikir termasuk Epistemologis, dan nilai, arti dan makna manusia merupakan landasan aksiologis. Jadi kitalah yang memutuskan. Bukankan manusia itu relatif? Sehingga konsekuesi logisya adalah apapun yang keluar dari manusia juga bersifat relatif., baik itu ide, konsepsi, keyakinan, rumusan, ilmu dan lain sebagainya. Namun tentu saja kita harus tetap mencari kebenaran tersebut, karena itulah kebenaran manusia yang harus tetap dicari dan di manifestasikan dalam kehidupan sehari hari.
Daftar Bacaan
The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, Liberti, (cet. IV) Yogyakarta: 1999
Hasan Bakri Nasution, FilsafatUmum, Gaya Media Pratama, Jakarta: 2001
Sidi Gazalba, sistematika filsafat (buku kedua), Bulan Bintang, Jakarta: 1991
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, sebuah pengantar populer, Pustaka Sinar Harapan, (cet. XII), Jakarta: 1999
Diposting oleh
Muslih
di
22.36
0
komentar
Label: MUSLIH
11 Agustus, 2008
TENTANG ME.........
AKU MEMILIKI NAMA : MOCH. MUSLIH
TTL : GROBOGAN 15 MEI 1997
ALAMAT : JL. BADER NO 443 KALIREJO BANGIL-PASURUAN
NO TELP : 0341 745060 HP. 081334466007
Diposting oleh
Muslih
di
21.45
0
komentar
Label: MUSLIH